Catatan Tentang Membaca Karya Sastra

0

Diposting pada: 27-05-2012 | Oleh: | Berkas: Apresiasi| Dibaca: 422 kali

Yanusa Nugroho

Mengapa orang membaca sebuah puisibaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?», cerpen atau bahkan novel tebal? Apakah mencari informasi? Jika memang informasi yang dicari, cukup nonton televisi saja, atau baca Koran. Apakah mencari hiburan? Jika memang itu yang dicari, mengapa tidak menanggap ’orgen tunggal’?

Menurut para ahli, antara lain Panuti Sudjiman dalam “Memahami Cerita Rekaan” (1988), di dalam sastrabaca : Korupsi Dalam Sastra Indonesia» ada unsur mimesis yang kuat, yang membuat pembaca seolah mengalami apa yang dipaparkan bacaannya.
Mimesis (tiruan) memegang peranan penting dalam cerita. Karena di dalamnya-sesungguhnya—pembaca diajak ‘berjarak’ dari duniabaca : Kita dan Sastra Dunia» kesehariannya, untuk diam dan ‘merenungkan’ sesuatu yang tengah terjadi. Di dalam mimesis itu sendiri tentu saja terangkum berbagai pengalaman, baik pengalaman si pengarang maupun orang lain, yang kemudian disimak dan dicocokkan dengan pengalaman si pembaca. Di sinilah sebetulnya dasar mengapa seseorang membutuhkan bacaan sastrabaca : Korupsi Dalam Sastra Indonesia».

Ketika seseorang membaca karya sastra pengalaman intelektual emosionalnya bermunculan, tarik-menarik, bergantian. Dia seperti tengah ‘menjalani’ kehidupan nyata—yang barangkali bahkan tak pernah ditemuinya. Keseluruhan munculnya pengalaman emosional dan intelektual secara bersamaan ketika menghadapi karya sastra inilah yang sering disebut sebagai pengalaman literer.
Kian banyak seseorang memiliki pengalaman literer, kian terasahlah pikirannya, sehingga kian kayalah pengalaman batinnya. Ini yang barangkali tidak diperoleh dari berita di media masabaca : Paradigma Kajian Sastra Dan Masa Depan Kemanusiaan ».

Bahasa di dalam Sastra

Perhatikan sajak pendek ini.
DI ATAS COBEK

Di atas cobek telah tersedia sejumput garam,
merica, udang kering secukupnya. Ketika dimasukkan ke
tempat yang sama, bawang putih yang telanjang itu
tiba-tiba teringat pada sepotong terasi.

“Alangkah senangnya kalau ia ada di sini,” katanya.
Dikenangkannya pertemuan dengan terasi suatu kali
di tempat itu. Ketika mereka lumat sebagai sambal
dan merasa sepenuhnya menyatu.

Bawang putih yang gelisah itu berkali-kali
menggumamkan terasi. “Jangan rewel!” hardik
garam yang asin itu. “Kitabaca : Seks, Sastra, Kita» akan membuat sup.
Terasi tak ada gunanya di sini…”

(dari: “Bumbu Dapur” karya Ags. Arya Dipayana).

Puisibaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?»/sajak ini sederhana. Pilihan katanya pun sederhana dan saya yakin, tak seorang pun membutuhkan kamus untuk repot-repot mencari bantuan. Akan tetapi, di balik kesederhanaan ini, apakah puisi ini ‘berkisah’ tentang “bagaimana membuat sup”? atau lebih lugas lagi: sebuah resep masakan?

Di sini kitabaca : Seks, Sastra, Kita» dihadapkan pada persoalan ambiguitas (maknabaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» ganda). Dengan teknik personifikasi (bawang putih telanjang, dan bukan bawang putih yang telah dikupas) kita dihadapkan pada sebuah ‘pengalaman’ intelektual dan emosional sekaligus, baik itu milik si penyair maupun milik kita sendiri. Hanya dengan pilihan “bawang putih yang telanjang itu” kemungkinan dalam imajinasi kita muncul sosok cantik berkulit putih. Ada penambahan maknabaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» baru. Sangat mungkin penyairnya membayangkan hal yang sama, tetapi bisa saja tidak; tidak penting benar.

Penambahan makna baru inilah yang disebut ambiguitas. Secara keseluruhan pun, seusai membaca puisi/sajak di atas, kita akan menemukan ‘sesuatu yang lain’. Setiap pembaca akan memaknainya sesuai dengan pengalamannya masing-masing. Inilah inti dari bahasa di dalam karya sastra. Ambiguitas jelas ‘diharamkan’ di dalam berita, karena berita harus lugas.

Struktur Cerpen
Sebagai salah satu bentuk ragam sastra prosa, cerpen (cerita pendek) memiliki struktur dasar, yaitu alur. Tanpa alur, sebuah cerpen tidak bisa ‘berdiri’, sebagaimana manusia tidak memiliki kerangka. Apa sebetulnya alur/plot itu?

Alur sebenarnya adalah peristiwa-peristiwa yang dialami pelaku/tokoh, yang diurutkan demi kepentingan tertentu. Ditekankan adanya “kepentingan” tertentu, yang intinya dipilih dari hal-hal yang memiliki pengaruh kuat pada si tokoh. Jika tidak memiliki pengaruh kuat pada si tokoh, maka yang muncul hanyalah serangkaian peristiwa. Itu sebabnya, alur dibangun berdasarkan konflik/persoalan. Tanpa persoalan, kita tidak mendapat cerita apa-apa.

Alur, secara umum, terdiri dari awal, tengah dan akhir. Pada umumnya, karya-karya sastra klasik menggunakan urutan ini. Awal biasanya mendeskripsikan bukan hanya siapa atau di mana sesuatu itu terjadi, tetapi juga semacam ‘salam pembuka’ kepada para pembaca. Pada bagian akhir struktur awal, maka kisah terasa mulai bergulir. Bagian tengah biasanya mulai beranjak pada pemecahan persoalan/konflik dan pada bagian akhir, penyelesaian masalah diungkapkan.

Pada karya sastra moderen, hal semacam itu sudah banyak ditinggalkan. Pada umumnya—terutama pada cerpen—pengarang moderen memulai alur kisah langsung pada persoalan yang dihadapi si tokoh. Teknik ini dikenal dengan istilah in medias res.

Menggunakan ‘dia’, ‘aku’, atau ‘saya’
Sering kita dihadapkan pada bagaimana sebaiknya mengungkapkan cerita. Sebenarnya, setiap orang memiliki gaya sendiri di dalam mengungkapkan kisahnya.

Dalam karya sastra kita mengenal istilah sudut penceritaan. Secara garis besar ada dua sudut penceritaan: aku-an dan dia-an. Harap diingat bahwa ‘aku’ di sini bukanlah si penulis, akan tetapi ‘aku’ tokoh, yang ada di dalam kisah. Secara sadar kita hendaknya membedakan hal ini. Karena jika ‘aku’ yang ada di dalam cerita tersebut sama dengan ‘aku’ penulis, maka tulisan tersebut bukan karya fiksibaca : Perang Dingin Gagasan Estetik Puisi dan Fiksi», melainkan buku harian.

Secara singkat, di dalam sastra harus dibedakan antara pengarang dan pencerita. Pengarang adalah seseorang yang menuliskan karangannya/cerpennya/novelnya dst, yang berada di luar novel/cerpen yang ditulisnya. Dia adalah unsur ekstrinsik karyanya. Sementara pencerita adalah tokoh yang diciptakan pengarang untuk ‘mewakili’ dirinya di dalam karya tersebut; pencerita adalah unsur intrinsik karya tersebut.
Nah, berkaitan dengan pencerita inilah muncul istilah pencerita aku-an dan pencerita dia-an.

Perhatikan contoh berikut.
Sorga itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke mari. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.

Ya, sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat, dengan rumah-rumah kardus atau triplek, dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini, melambai-lambai ditiup angin.

Aku sendiri tak mengerti, bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. Hampir tiga hari aku berjalan, mengendap-endap, melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan ..ya, sebagaimana yang kukatakan tadi, aku menemukan sorga itu di sini. (“Garis Cahaya Bulan ” – Yanusa Nugroho).

Di atas adalah contoh pencerita aku-an. Sementara yang berikut ini adalah pencerita dia-an.

Laki-laki muda, seorang sarjana keuangan, yang kurang beruntung dibanding kawan-kawannya itu, berada di ambang putus asa. Kawan-kawannya, lulusan 7 tahun yang lalu, kini telah memiliki rumah berharga ratusan juta rupiah. Mereka adalah pengunjung club-club mahal dan mobil mereka adalah brand-brand terbaru.

Dia selalu tergesa dan merasa tak betah pada detik yang tengah dialaminya. Dia selalu bergerak sesuai dengan kerjap ide-idenya yang entah dari mana datangnya itu. Tentu, dia telah memiliki rumah, istri cantik dan seorang malaikat mungil bermata telaga, dari perkawinan mereka selama ini. Aneh, dia seperti meminum air laut, jika menyaksikan keadaan hidupnya sendiri. Tak ada yang mengeluhkan apa yang dimilikinya, kecuali, tentu saja, dirinya sendiri.

Handphone-nya selalu mendenyit-denyit, mengantar dan menerima suara-suara entah dari duniabaca : Kita dan Sastra Dunia» mana. Mungkin, inilah sebabnya dia tak mampu lagi mendengar tangisan semak-perdu, rumput, tanah dan pepohonan. Telinganya terbiasa dengan gelombang elektronik yang selalu mengepung dan mendengung di tengkoraknya. (“Airmata Rumput” –yanusa nugroho).

Rasanya, dari dua cuplikan di atas, jelas bagi kita, apa yang dimaksud dengan sudut penceritaan aku-an dan dia-an.

Tentang penggunaan kata ‘aku’ ataukah ‘saya’, menurut saya itu persoalan pribadi si pengarang. Bukan berarti seorang pengarang bisa memilih sesuai selera, tetapi lebih kepada tujuan si pengarang. Setiap kata memiliki bukan saja makna, tetapi juga ‘rasa bahasa’. Di sini sebenarnya kunci persoalan mengapa seseorang memilih ‘saya’ dan bukan ‘aku’, atau sebaliknya.

Sudut Pandang
Ada yang menyalahpahami antara sudut penceritaan dan sudut pandang dengan menyamaratakan pengertian keduanya. Sudut penceritaan sebagaimana diuraikan di atas adalah gaya penyampaian si pencerita. Sementara sudut pandang, lebih kepada ‘versi’ si pencerita (bukan pengarang) akan suatu peristiwa.
Untuk lebih mudah saya gunakan contoh berikut.

Pak Dul berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak minta tolong. Tak jauh di belakangnya, Si Mat menyusul sambil mengacung-acungkan celurit.

Kita bisa menduga akan terjadi peristiwa berdarah. Akan tetapi mari kita dengarkan versi kedua orang itu.
Pak Dul: “ya, saya sadar.. belum bisa bayar.. dan saya paham kalau Mat marah, tapi saya tidak mau mati, makanya saya menyelamatkan diri..”

Pak Mat: “Lho, saya bingung, wong saya mau mengembalikan celuritnya kok dia malah ngajak kejar-kejaran. Celurit ini seminggu yang lalu saya pinjam, sekarang akan saya kembalikan.”

Baik, mari kita mencoba berlatih membuat sebuah cerpen.

***

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan, cetakan I, Jakarta: Pustaka Jaya.

http://www.dikbangkes-jatim.com/?p=1143

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 

Yang juga baru:close