Kambing

0

Diposting pada: 06-03-2011 | Oleh: | Berkas: Cerpen| Dibaca: 266 kali

Cerpen Siti Sa’adah

PAGIKU geger. Kambing yang kubeli satu minggu lalu untuk kukurbankan pagi ini hilang. Sempat terpikir mungkin kambing itu sudah diantar bapak ke masjid sebelum shalat Idul Adha dilaksanakan. Tapi, masa bapak tidak memberi tahu aku yang telah sabar menabung agar bisa membeli kambing kurban itu?
Ah tidak mungkin, bapak bukan tipe orang yang tidak bisa menghargai jerih payah orang lain. Langsung saja aku masuk rumah dan mendapati bapak sedang menyisir rambutnya yang basah. Menunggu ibu yang masih mandi untuk berangkat shalat Idul Adha di masjid desa yang tidak terlalu jauh dari rumah, sajadah sudah tersampir di pundak kirinya.
“Kambingku di mana, Pak?” tanyaku gusar.
Bapak dengan tenang menjawab tanpa melihatku, “Sudah diambil yang punya.” Bapak menyisir rambutnya pelan dan hati-hati.
“Yang punya?!” Aku jadi bingung, “Itu kan kambingku, Pak.” Aku tidak sabar dengan sikap bapak yang biasa-biasa saja, “Dicuri ya?” aku langsung menebak.
“Ya. Tidak ada sejak Subuh tadi.”
“Bapak dari tadi kok diam saja? Tidak memberi tahuku?” Segentong darah seperti disemburkan ke otakku. Panas dan pekat.
Bapak mengalihkan pandangannya dari cerminbaca : Cermin» dan melihatku sekilas tanpa kata, kemudian mematuk wajahnya lagi di cerminbaca : Cermin», dicantolkannya sisir pada paku di bawah cermin.
“Kalau begitu aku tidak jadi naik kambing ke surga….”
Tubuhku jadi lungkrah.
“Jadi, Yun, tetapi tidak sekarang.” Sahut ibu dari dalam kamar, rupanya ibu sudah tahu kalau kambingku hilang.
“Ya jelas dong, Bu, Kayun sekarang kan masih di dunia, belum mati, belum digarap malaikat Munkar Nakir di lahat, ditimbang-timbang di padang mahsyar, dan itu pun belum tentu bisa masuk….”
“Seharusnya bapak lapor pak RT!” Kupotong omongan bapak yang panjang lebar dan kurasa melantur itu.
“Belum tentu masuk surga meskipun di shirothol mustaqim naik kambing yang melesat secepat kilat.” Bapak tidak mau menyudahi ceramahnya sambil tangannya digerakkan dengan cepat, kemudian beliau duduk di ruang tamu.
Aku jadi jengkel melihat bapak yang tenang-tenang saja saat aku kebingungan seperti ini. Betapa aku sayang dan bangga dengan kambing yang kubeli dari uang tabungan. Aku teringat usaha menahan diri untuk tidak jajan dan menghemat pulsa untuk bisa menabung. Ya, sudah sekitar tiga tahun aku ingin berkurban, bapak dan ibu dua tahun lalu sudah berkurban dua kambing, mereka juga berniat berkurban untukku, tetapi aku menolak. Aku ingin berkurban dari jerih payahku, meskipun uangnya aku dapat dari bapak dan ibu, setidaknya aku telah menyisihkan sebagian dari rizkiku untuk berkurban.
Sejak kecil aku sering membayangkan naik kambing saat melewati shirothol mustaqim. Impian itu terus menguntit setelahbaca : Setelah Lebaran » temanku yang agak pintar bercerita jika di akhirat nanti orang akan melewati shirothol mustaqim, semacam jembatan yang menghubungkan surga dan neraka, tetapi kecil sekali. Tidak sama dengan jembatan bambu di sungai belakang rumahku, apalagi selebar jembatan merah di Surabaya yang lebar itu. Jembatan itu sebesar rambut dibelah tujuh. Dahsyat, dibelah tujuh! Aku jadi ketakutan. Melewati jembatan bambu di sungai belakang rumah saja aku takut, padahal aku sudah kelas tiga SMP, apalagi jembatan sebesar rambut dibelah tujuh? Bagaimana aku bisa? Kalau tidak, pasti aku jatuh ke neraka tempat jembatan itu dibentangkan, di sana aku akan dilumat api dan segala ngeri yang pernah kubayangkan, meskipun kata temanku itu surga dan neraka tidak sama dengan apa yang manusia bayangkan, pasti lebih dari itu. Maka dari itu, aku ingin bersedekah kambing dengan harapan itu bisa menjadi tabungan amal yang kutunggangi kelak. Cukup mangkring dan wuzzh…. Bablas aku lolos ke surga. Oh iya, kata temanku itu, jika kambing hanya cukup untuk satu orang, sedangkan sapi bisa ditunggangi tujuh orang. Karena keluargaku hanya terdiri atas tiga orang, dan bapak ibu sudah berkurban maka tinggal aku sendirian. Sudah tepatlah sekeluarga naik kambing sendiri-sendiri.
“Ayo, Yun, berangkat ke masjid. Sudah jam enam.” Rupanya cukup lama aku tercenung, bapak sudah tidak ada di depanku. Ibu keluar dari kamar lengkap dengan mukena.
“Kambingku, Bu!” Aku tambah uring-uringan melihat ibu yang ngacir dan tidak peduli. Jangan-jangan bapak dan ibu sedang usil mengerjaiku dengan menyembunyikan kambingku, tapi untuk apa? Seperti anak kecil saja. “Iya, nanti kita bicarakan. Yang penting sekarang kita shalat. Oke.”
“Tapi….” Ibu sudah turun ke jalan menyusul ayah yang berjalan pelan menuju masjid. Mulutku seperti dijejali kepalan tangan sehingga sulit berbicara. Percuma aku menggerutu, ibu dan bapak sudah berlalu. Kusambar kopiah dan baju koko, setengah berlari mengejar mereka.
***
Terus terang aku tidak bisa menjadi makmum yang baik kali ini. Meskipun gerak tubuhku mengikuti setiap takbir imam, pikiranku melancong mencari kambingku yang hilang. Padahal, kambing itu semalam masih ada di kandangnya, sebelum tidur aku memberinya rumput sisa pada siang harinya. Aku tidak bisa menahan senyum karena rasa bahagia yang membuncah dalam hati, setelahbaca : Setelah Lebaran » sabar menabung dua tahun akhirnya aku bisa membeli tunggangan di akhirat. Aku mempunyai investasi masa depan, tanpa merasa merana melihat temanku yang sudah berkurban. Dan, tentu saja aku akan menaiki kambingku ini dengan gagah seperti Shalahudin Al-Ayyubi menunggangi kuda perangnya. Elok pasti, karena dengan kecepatan cahaya kambingku melesat melewati shirotol mustaqim, dan bisa masuk surga dengan selamat. Jadilah aku punya alasan untuk mengelak jika ada malaikat berani menyeretku ke neraka karena perbuatan nakalku yang sering muncul, seperti malas ikut jamaah, shalat di akhir waktu bahkan sampai waktunya habis baru shalat, suka berfantasi tentang hal tabu, jorok dan tidak pantas, dan maksiat lainnya yang masih sering kulakukan dengan berat hati (tentu saja hati kecilku berontak meskipun sering kuabaikan) yang bisa menjebloskanku ke penjara neraka, langsung kutangkal dengan kambingku ini. Hahaha…
Ah, semalam aku masih bisa tertawa dengan kambingku, tetapi sekarang aku bingung dibuatnya.
Khutbah Idul Adha yang dibawakan pak kiai kudengar seperti gerutu orang-orang di pasar yang semrawut, mem buatku tidak nyaman. Pikiranku kacau, aku benar-benar kehilangan konsentrasi. Ketenanganku hilang entah ke mana bersama kambingku. Aku jadi tidak betah terus bersila. Untung saja aku berada di tepi barisan, aku berdiri dan berjalan mendekati kambing dan sapi yang akan disembelih di samping masjid setelah shalat Idul Adha. Tampak teman-teman dan tetangga yang duduk di dekatku menatap heran, kubilang perutku sakit, mau ke WC.
Ada lima ekor kambing dan satu ekor sapi. Kupandangi satu per satu, jangan-jangan ada yang mencuri dan mengurbankannya kemari. Tapi, apa ada pencuri sebodoh itu, jika mencuri kambingku untuk dikurbankan tentu saja tidak diserahkan kemari, pasti akan ketahuan, karena rumahku dekat dengan masjid. Tapi, aku jadi ragu, apa ada orang yang ingin beribadah dan bersedekah dari hasil curian? Itu kan model para pejabat korup yang suka menutupi kebusukannya dengan bersedekah dan menyumbang sana-sini.
Kuteliti lima kambing itu satu per satu. Langsung kuacuhkan dua kambing gibas kacangan, karena kambingku jenis ettawa. Tiga kambing ettawa aku pelototi, mulai dari ujung telinga yang menggelambir, mata yang bulat kelereng, jenggot yang melengkung, warna kulit, kaki, ekor, sampai tahinya. Tidak sama dengan kambingku. Terlebih tahinya, aku akui kambingku kurang sehat, kemarin siang mencret, tahinya tidak bulat-bulat, tapi jembret dan menggelambir, jatuhnya seperti telethong sapi. Saat kutanyakan bapak, itu tidak masalah, malah dijawab, “Mungkin itu sebagai bentuk penolakan berada di dekatmu, Yun. Tidak betah dengan bau badanmu, hehe….” Bapak terkekeh, aku percaya saja kata-katanya.
Kelima kambing itu dikalungi tulisan nama pemiliknya masing-masing. Oh Tuhan, seharusnya kambingku memakai kalung bertuliskan namaku.
Tidak terasa jamaah sudah bubar. Mereka pulang membawa bungkusan nasi dan lauk, ada pula yang memakannya bersama-sama di serambi masjid. Aku tidak berselera menikmati ambeng yang ada, padahal biasanya setiap murak ambeng aku selalu bersemangat karena memiliki kenikmatan tersendiri, berbeda dengan makan nasi di rumah. Mungkin karena ambeng di masjid terasa nikmat setelah didoai agar menjadi rezeki yang berkah, dan tentu saja rasa kebersamaan saat murak ambeng. Tetapi, kali ini nafsu makanku lenyap. Yang memenuhi pikiranku sekarang adalah kambing, kambing, kambing. Kambingku yang mencret itu. Dan, aku benar-benar heran dengan sikap ibu dan bapak yang tenang-tenang saja! Huh, mentang-mentang sudah bekurban! Umpatku dalam hati.
***
Dari masjid aku langsung pulang, menyambar sepeda Unitedku, kemudian melesat ke mushala yang terdekat dari masjid. Saat sedang melintas di samping masjid, tampak ibu akan pulang dengan membawa ambeng di dalam ember blurik warna hijau, kupelankan laju sepedaku.
“Mau ke mana, Yun? Nanti bantu bapakmu nguliti kambing di sini!” Ibu mencoba menghentikanku dengan teriakannya. Rupanya ibu hafal benar kesenanganku menguliti kambing, dan menelan ulur-ulur.
Nyari kambingku, Bu!” sahutku tidak kalah keras. Sekilas kulihat ibu geleng-geleng kepala.
“Memang kambingnya di mana, Bu?” sempat terdengar tanya seorang ibu-ibu yang jalan beriringan dengan ibu.
“Tidak tahu.” Jawab ibu singkat.
Tuh kan, benar kalau begitu, ibu sudah tidak peduli dengan kesusahanku.
***
Rupanya anggapan kambingku dicuri orang salah besar, tidak ada maling kambing di belakang rumah tadi malam saat malam takbiran. Kambingku tercebur sungai dan mati tersangkut dam di pinggir desa. Sekarang aku harus minta pertanggungjawaban kepada Kang Marno yang memimpin penyulutan mercon saat takbir keliling semalam, karena merconnya, kambingku ketakutan dan lari tunggang langgang sampai tercebur sungai di belakang rumah. Dia pasti sedang di masjid, mengatur daging kambing yang akan dibagikan. Sungguh aku tidak bisa menerima, semalam memang mercon melengking sepanjang malam dan obor membulat-bulat di ujung oncor bambu saat keliling desa.
“Kamu ini kenapa, Yun!” Bapak beranjak dari duduknya dan mencegatku, dia mencengkeram bahuku saat aku datang dengan bangkai kambing di atas geledekan dengan penuh amarah. Pisau kecil berada di tangan kanannya, rupanya bapak sudah selesai menguliti kambing.
“Bapak dari tadi pagi sudah tidak peduli. Sekarang tidak usah ikut campur! Kambingku mati gara-gara Kang Marno!” Kupandang orang-orang yang sedang memotong-motong daging dan belulang. Seketika aktivitas berhenti. Pandangan orang-orang fokus padaku dan bangkai kambing yang menggelembung di geledekan.
“Hei hei, ojo ngawur kamu, Yun!” Kang Marno mendekatiku. “Itu to kambing yang akan kamu kurbankan, tapi tidak jadi?! Kok menuduh aku?”
“Karena mercon sampean, kambingku ketakutan dan lari dengan tali dan patokannya!”
“Kata siapa?”
“Pokoknya gara-gara mercon sampean semalam!”
“Bukannya kamu juga ikut takbiran keliling semalam?”
“Aku hanya membaca takbir di bak mobil keliling, Kang!”
“Aku semangat menyulut mercon karena takbirmu yang menggebu-gebu itu!” Ucapan Kang Marno seperti mencatut nyawaku, aku jadi kaku dan kesadaran yang terasa menyakitkan memenuhi pikiranku.
“Sudah, Yun, benahi dulu niatmu berkurban.” Bapak berusaha menenangkanku dengan membisikkan nasihatnya, dia letakkan pisau kecil yang sejak tadi dipegangnya, kemudian mendekati bangkai kambing, “Ayo!” dari sorot matanya aku paham, bapak mengajakku untuk memberangkatkan kambingku terlebih dahulu ke alam kubur. Entah masuk surga atau neraka, atau tidak sama sekali. (*)
Siti Sa’adah, lahir dan tumbuh di Jombang, penjaga warung kopi di dusun Gebangmalang Desa Bandung Kecamatan Diwek. Bergiat di komunitas PSK (Penggila Sastra Kopi) dan Lembah Pring. Beberapa tulisannya dimuat di sejumlah surat kabar dan majalah. Antologi cerpenbaca : Ongkak» bersamanya Hujan Sunyi Banaspati (Dekajo Komite Sastra, 2010). Email: bejodaroini@yahoo.com.
SUMBER:  Republika, 27 Februari 2011

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 
Yang juga baru:close