Korupsi Dalam Sastra Indonesia

0

Diposting pada: 16-08-2011 | Oleh: | Berkas: Esai| Dibaca: 470 kali

Oleh: M. Tauhed Supratman *)

Tugas utama seorang sastrawan adalah menjadi saksi zaman dan menjadi hati nurani masyarakat dan bangsanya. Sebagai saksi zaman, sastrawan menyerap segala yang terjadi dalam masyarakat, dan mengabadikannya dalam kata-kata, sehingga semangat dan situasi batin maupun fisik dapat diteruskan pada kalangan yang lebih luas, baik sekarang maupun pada masa-masa yang akan datang.

Mengapa demikian? Karena seorang sastrawan adalah manusia merdeka yang tidak terikat oleh suatu struktur tertentu kecuali ikatan oleh diri dan batinnya sendiri. Sebagai bukti bahwa sastrawan merupakan saksi zaman dan menjadi hati nurani bangsanya dapat kita lihat dalam karyabaca : Citra Belanda Dalam Karya Prosa Suparto Brata» sastrabaca : Sastra Indonesia, Fakta dan Fiksi»-karyabaca : Citra Belanda Dalam Karya Prosa Suparto Brata» sastrabaca : Sastra Indonesia, Fakta dan Fiksi» Indonesiabaca : Sastra Indonesia, Fakta dan Fiksi» yang memotret denyut nadi kehidupan bangsanya, terutama tentang perilaku korupsi dikalangan pemimpin kita.

“Budaya korupsi” sebenarnya adalah istilah yang sudah menjadi salah kaprah. Menurut M. Dawam Rahardjo (Jawa Pos, 8 Maret l994), korupsi bukanlah sebuah kebudayaan, melainkan gejala anti budaya. Istilah tersebut mula-mula muncul dan menjadi popular karena tulisan Bintaro Tjokroamidjojo, ketua LAN (Lembaga Administrasi Negarabaca : Negara Tanpa Sastra») dekade 1990-an. Ia, antara lain mengatakan bahwa korupsi itu sulit diberantas karena telah melembaga dalam perilaku manusia Indonesiabaca : Sastra Indonesia, Fakta dan Fiksi», khususnya dikalangan birokrasi dan mereka yang berhubungan dengan birokrasi.

Tentang perilaku korupsi dikalangan pemimpin negarabaca : Negara Tanpa Sastra» kita diangkat oleh Aoh K. Hadimadja lewat novelnya yang belum selesai Sepi Terasing” . Basar, tokoh novel tersebut, sebagai pemimpin dalam bidang pertanian, melakukan korupsi lantaran merasa “ditantang” oleh istrinya yang serong dengan kawannya yang berharta. Akhirnya Basar dihukum. Dalam penjara itulah terjadi perubahan wataknya. Ia berkata: “Apakah Hartoyo? Orang yang halus berbudi, taat pada agama, penuh cita-cita, tetapi bukan manusia bertindak yang penuh petualang. Padahal dunia ini untuk petualangan, oleh karena dunia bukan surga untuk malaikat”.

Pemimpin kita yang dipercaya oleh ternyata malah mencekik rakyat dengan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadinya. Tetapi sebaliknya, pemimpin yang baik namun berada dilingkungan masyarakat yang masih mentah percuma saja.  Maka tingkat budaya bangsabaca : Peran Sastra dalam Pembentukan Karakter Bangsa» inilah yang menjadi masalah. Hanya para pemimpin saja yang baik, tahu disiplin, tetapi bawahannya bermental konyol, tidak akan melahirkan masyarakat yang stabil ekonomi naupun rohaninya. Contoh ini ditunjukkna oleh Ramadhan K.H. dengan novelnya Kemelut Hidup”.

Tokoh novel ini adalah seorang sarjana setengah baya yang mengharapkan dapat naik kariernya dengan menyelesaikan kuliah. Tetapi apa yang menjadi kenyataan. Meskipun persyatan teknis, punya ijasah tinggi sudah dipenuhi dan moral pegawai telah dijalani secara tekun dan baik sekali, namun hasilnya malah malapetaka. Abdurrahman , tokoh utama novel itu, adalah tipe pemimpin yang jujur, tidak mau korup, ditengah-tengah pemimpin lainya yang sangat rakus dalam menelan uang negara, namun tokoh yang moralnya tinggi hanya berakhir dengan kebangkrutan.  Setelah selesai sebagai pemimpin, ia tak dipercaya orang lagi. Dan tabungannya nol, lantaran selama ia menjadi pemimpin hanya makan gaji saja. Gaji pegawai negeri. Betapa tidak riilnya tokoh Abdurrahman hidup di Indonesia sebagai pegawai negeri. Akibat kemelaratannya itu anak-anaknya rusak melacur, istrinya nyeleweng.

Kejujuran perorangan saja, seperti dilukiskan dalam novel Ramadhan di atas, tidak akan menolong memperbaiki keadaan. Kejujuran seorang pemimpin harus mendapat dukungan lingkungannya. Kejujuran beberapa pemimpin ditengah-tengah bawahannya yang korup akan menghancurkan negara juga. Bahkan sebaliknya, seorang pemimpin masyarakat yang berusaha jujur dan bekerja secara adil, karena pengalamannya dengan masyarakat yang busuk, mengakibatkan sang pemimpin bertindak diluar batas kemanusiaan. Contoh ini dikerjakan oleh Muspa Edow dalam novel pendeknya Perjalanan Hitam”. Muspa Edow memang bercerita tentang pengalaman dan penderitaan seorang tahanan disebuah kantor polisi, tetapi ia hanya lambang, ia bisa diperluas di kantor manapun. Tahanan mengalami siksaan. Mengapa menyiksa tahanan? Inilah alasannya: “Polisi yang di depanku masih menatap mataku dengan sikap yang tak berubah. Ia berkata: Ya. Saya tahu, apa yang ingin kau katakana dan barang kali juga apa yang kau rasakan. Tapi di sini tak ada perasaan, kau harus ingat itu. Kalau kau bukan orang jahat,  kau harus ingat bahwa  orang jahat terlalu pandai memperalat perasaan. Mempengaruhi kami dengan menghiba-hiba, cerita palsu, air mata buaya. Ia menelan ludah, menatapku lagi dengan mata yang tajam, dengan pelataran wajah yang bersemu merah. Kami selalu dituntut supaya berhalus-halus, supaya berperasaan. Tetapi kau tahu sendiri kami selalu ditipu, dikelabuhi. Akhirnya kami akan bertindak keliru, atau pemeriksaan akan berlarut-larut. Nah, sekali lagi saya katakana kepadamu, ini tugas kami. Dan saya berharap agar kau mau mengerti.”

Akibat dari korupsi yang merajalela tersebut, menurut cerpenis asal Sumenep, Madurabaca : Merari Siregar Dilahirkan Di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, Meninggal Di Kalianget, Madura», M. Fudoli Zaini, maka keadaan negara yang dulu dianggap sebagai negara “Gemah Ripah Loh Jinawi” , sebuah negara yang tidak kekurangan sesuatu apa pun, negeri yang aman dan sentosa sepanjang waktu, namun akhirnya mengalami perubahan yang sangat memprihatinkan. “Angin pun terus bertiup. Gemah ripah loh jinawi, kata seorang pemimpin karismatik kami yang telah berpulang ke Rahmatullah………Angin pun terus bertiup, pelan dan sepoi…..Alangkah indah dan damainya negeri ini, seperti potongan sorga yang jatuh di atas bumi. ….Namun, namanya manusia, makhluk yang selalu lupa dan alpa. …Maka angin pun tidak bertiup sepoi dan semilir. Angin jadi bertiup keras dan kering.

Itulah sebagaian kecil kutipan yang diangkat dari cerpen “Negeri Angin” karya M. Fudoli Zaini, untuk menggambarkan keadaan “Negeri Angin” ciptaan cerpenis itu. “Negeri Angin”  tersebut mengalami perubahan yang sangat memprihatinkan karena mereka yang memegang kekuasaan suka mengabaikan janji setelah dirinya berkuasa, menjadi pejabat dan memiliki kekuasaan. Mereka sering memanfaatkan kekuasaannya untuk mengeruk kekayaan, mereka sudah mencampakkan nilai-nilai kejujuran, sehingga Fudoli dalam cerpennya menganggap mereka sebagai maling.

Dalam era maling tersebut mengakibatkan “Negeri Angin” dilanda krisis yang berkepanjangan. “….Dan, krisis keuanganpun terjadi. Negara yang miskin itu pun bertambah melarat dan morat-marit. Orang-orang kehilangan pekerjaan dan menjadi penganggur. Anak-anak putus sekolah dan berkeliaran di jalanan. Kejahatan jadi merebak bagai cendawan di musim hujan. Tak lama kemudian bukan hanya pencurian yang terjadi di mana-mana, tetapi juga perampokan; penjarahan dan kerusuhan mulai meletus di setiap tempat.

Itulah sekilas gambaran korupsi dan akibatnya dalam karya sastra kita. Semoga apa yang digambarkan di atas tidak terjadi di Indonesia kita tercinta, semoga hanya terjadi dalam sastra Indonesiabaca : Sastra Indonesia, Fakta dan Fiksi» ini.

 *) Penyairbaca : Penyair, Puisi, dan Identitas » tinggal di Pamekasan Madurabaca : Merari Siregar Dilahirkan Di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, Meninggal Di Kalianget, Madura»

Masuk dari pencarian:

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 

Yang juga baru:close