Menulis, Sebuah Proses Kreatif

0

Diposting pada: 23-03-2012 | Oleh: | Berkas: Apresiasi| Dibaca: 515 kali

Oleh Muhammad Subhan

Barangsiapa bergelut dengan pena, hidupnya akan berada di atas mimbar. Barangsiapa sibuk membaca bukubaca : Berpuisi Adalah Bekerja Untuk Pembebasan: Apresiasi Buku Puisi “Tempurung Tengkurap»-bukubaca : Berpuisi Adalah Bekerja Untuk Pembebasan: Apresiasi Buku Puisi “Tempurung Tengkurap», orang-orang besar akan menghormatinya. (Syekh Dr Aidh al Qarni)

Saya mempunyai ibu yang—ketika itu—sangat pamberang. Beliau paling tidak suka mendengar suara ‘tak tik tuk’ mesin tik tua saya ketika hasrat menulis tiba-tiba muncul di benak saya. Kadang pula saya harus sembunyi-sembunyi di sudut rumah agar ibu tidak mengetahui atau mendengar saya lagi menulis, atau tepatnya mengetik tulisan.

Ya, begitulah ibu saya. Tapi dia adalah ibu yang baik dan sangat penyayang kepada anak-anaknya. Mungkin, ketika itu ibu belum tahu apa manfaat saya menulis—yang akhirnya sekarang setelahbaca : Setelah Lebaran » kebutuhan keluarga saya yang mencukupinya—ibu menikmati hasil jerih payah saya dari pekerjaan menulis. Alhamdulillah!

Saya menulis sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP di sebuah kampung kecil di Aceh. Hampir setiap hari saya iseng datang ke toko koran/majalah yang tak jauh jaraknya dari rumah hanya sekadar untuk membolak-balik isi koran/majalah terbaru yang terbit hari itu. Kadang pula saya dimarahi si pemilik toko karena tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi keuntungan tokonya. Kalau sudah begitu, saya cuma bisa nyengir mencibir lalu kabur terbirit-birit. Saya tidak kapok, saya datang ke toko buku lainnya yang menjual majalah atau koran. Begitulah hari-hari yang saya jalani. Dua puluhan tahun silam.

Proses menulis saya berawal ketika saya ikut merantau bersama kedua orangtua ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ayah saya orang Aceh, ibu saya Minang. Di Negeri Tanah Rencong itu saya sering mengirim tulisan ‘icak-icak’ (asal-asalan) saya ke koran Harian Serambi Indonesiabaca : Jakop Sumardjo: Di Indonesia, Menjadi Kritikus Sastra Cukup Berat» yang merupakan koran media group Kompas. Namun, setiap kali saya kirim setiap kali itu pula saya harus “berbangga” karena tulisan saya TIDAK PERNAH DIMUAT!.

Meski demikian, saya tidak menyerah. Saya terus berproses. Kalau tidak salah ingat, tulisan pertama saya hanya sebuah puisibaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» satu bait berjudul Tua. Lalu saya coba menulis cerpenbaca : Setelah Lebaran » perdana berjudul Ketika Merpati Itu Pergi. Maklumlah ketika itu saya masih ABG dan barubaca : Wajah Baru Dewi Lestari dalam "Perahu Kertas"» mengenal namanya “virus merah jambu”. Cerpenbaca : Setelah Lebaran »-cerpen saya selanjutnya mengisahkan tentang “aku, dia, dan kita”, cerita ala kehidupan anak remaja yang barubaca : Wajah Baru Dewi Lestari dalam "Perahu Kertas"» mengenal dunia. Walah! (Tapi itu hanya berlangsung ketika saya masih sekolah, sesudah itu saya menulis cerpen-cerpen serius yang mengangkat tema-tema sosial dan sesekali dimuat media massa, alhamdulillah).

Sehabis menulis puisibaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» dan cerpen yang tak dimuat-muat, akhirnya saya coba menulis artikel yang kata orang susahbaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» menulisnya. Ketika itu saya tidak mengerti bagaimana menulis artikel. Saya cobalah menyadur sebuah cerita bergambar (cergam) berjudul “Dajjal”, yang saya robah judulnya menjadibaca : Jakop Sumardjo: Di Indonesia, Menjadi Kritikus Sastra Cukup Berat» “Menyingkap Maknabaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?» Dajjal”. Saya olah bahan tulisannya sedemikian rupa. Iseng lagi saya kirim ke Harian Serambi Indonesiabaca : Jakop Sumardjo: Di Indonesia, Menjadi Kritikus Sastra Cukup Berat» yang berkantor di Banda Aceh. Eh, entah kebetulan entah tidak, artikel itu dimuat. Luar biasa!.

Tentu saja saya senang. Bangga sekali. Artikel itu saya kliping dan saya perlihatkan (tepatnya pamer) kepada siapa saja yang saya kenal. Ada yang memuji saya, ada pula yang cuma tersenyum. Katanya, “baru sekali tulisan dimuat senangnya sekampung.” Belum tahu dia, saya akan menjadibaca : Jakop Sumardjo: Di Indonesia, Menjadi Kritikus Sastra Cukup Berat» penulis terkenal kelak. Hehehe…. Amin.

Setamat sekolah menengah, saya coba melamar kerja menjadi wartawan. Tidak diterima. Karena terlalu muda, kata pemimpin redaksi koran. Namun saya terus menulis. Awal tahun 2000 saya hijrah ke Padang, Sumatera Barat, gudangnya para penulis Minang. Di kota itu saya belajar pada siapa saja. Dan, saya terus menulis di media-media massa terbitan Padang hingga sekarang.

Saya melamar lagi menjadi wartawan sambil mencoba menyelesaikan kuliah. Ada beberapa koran mingguan yang menerima. Tapi saya tidak betah. Ternyata jadi wartawan itu susahbaca : Memaknai Puisi, Seberapa Susahkan?». Tapi saya tidak menyerah. Meski kadang makan kadang tidak, saya tetap jadi wartawan. Lalu, saya terus bermeditasi, merenungi diri mau jadi apa kelak. Tapi, hasil dari meditasi itu saya disuruh tetap menulis (mungkin sudah nasib saya). Ya, kalau begitu saya harus siap-siap lagi untuk tidak makan—walau sekarang makan saya paling banyak. Tapi, setelahbaca : Setelah Lebaran » menjadi wartawan benaran, saya baru merasakan indahnya hidup.

Saya tidak pernah membayangkan bisa menyinggahi kota-kota besar di Tanah Air—walau sekedar ditugaskan meliput bersama rombongan pejabat, khususnya wakil rakyat di DPRD yang suka kunker sana sini, yang katanya menghambur-hamburkan uang rakyat. Wah, saya ikut kena getahnya juga tuh—dan saya merasakan pula banyak menemui hal-hal baru yang mungkin belum tentu saya dapatkan jika bekerjabaca : Berpuisi Adalah Bekerja Untuk Pembebasan: Apresiasi Buku Puisi “Tempurung Tengkurap» di profesi lainnya. Dan, semuanya saya nikmati, dalam proses menemukan jati diri.

Lalu, saya juga banyak belajar dengan berbagai narasumber yang saya temui. Dan yang terpenting, saya punya banyak kawan, banyak ilmu, dan mudah-mudahan juga akan banyak uang. (Amin lagi…). Di samping menjadi wartawan “kecil-kecilan” (yah, karena gaji saya memang kecil ketika itu), saya juga terus aktif menulis artikel, puisi dan cerpen yang saya kirim ke media-media di luar Sumatera Barat. Honornya lumayan walau hanya sekadar untuk bayar utang!

Ketika saya tidak terlalu aktif menjadi wartawan lalu memutuskan bekerjabaca : Berpuisi Adalah Bekerja Untuk Pembebasan: Apresiasi Buku Puisi “Tempurung Tengkurap» di Rumah Puisi Taufiq Ismail, saya memiliki banyak waktu menulis. Maka selanjutnya saya niatkan menulis buku. Beberapa buku bersama kawan-kawan penulis lainnya lahir selama saya tinggal di Padangpanjang. Awal 2011 lalu novel perdana saya Rinai Kabut Singgalang diterbitkan sebuah penerbit kecil di Jogja. Novel itu laris manis dan telah masuk cetakan kedua. Dari royalti penjualan buku saya mendapatkan uang. Saya berhagia dan senang. Beberapa sutradara di Jakarta tertarik ingin memfilmkan Rinai Kabut Singgalang. Sekarang saya sedang menjajakinya bila memang layak menjadi film. Kalau pun tidak, saya berharap novel itu dapat menjadi pemicu semangat saya untuk terus menulis buku-buku berikutnya. Novel kedua saya berjudul Cinta Regu Badak, saat ini sedang saya muat secara bersambung di Jurnal Seni Online www.kuflet.com.

Begitulah proses kreatif saya menulis yang saya akui sangat tinggi. Hasrat saya memang menggebu-gebu—Bukalah facebook saya (email Fb: rinaikabutsinggalang@yahoo.com dan rahimaintermedia@yahoo.com), isinya penuh dengan motivasi-motivasi menulis. Selalu saya update motivasi itu agar bermanfaat bagi banyak orang—Kadang saya juga harus nongkrong di depan komputer semalaman hanya untuk mengharapkan menemukan diksi-diksi yang pas untuk karya-karya saya. Semuanya benar-benar memuaskan dan tidak akan pernah saya dapatkan jika saya tidak menulis atau bekerja di bidang lain. Teman saya yang punya warung—mulai dari pagi buka warung lalu sore tutup warung—saya tidak dapat melakoni pekerjaan seperti dia. Ya, saya orang bebas, tidak suka diintervensi, apalagi dalam tulisan-tulisan saya. Saya mau tulisan-tulisan itu mengalir apa adanya, seperti air. Apakah orang menikmati atau tidak tulisan saya itu, saya tidak tahu. Dibilang buruk, buruklah. Saya akan tetap menulis,  sampai kapan pun!

Belajar dari Alam

“Alam takambang jadi guru”, demikian pepatah Minangkabau yang cukupbaca : Jakop Sumardjo: Di Indonesia, Menjadi Kritikus Sastra Cukup Berat» populer. Artinya, alam memberikan banyak inspirasi kepada kita untuk belajar.  Alam menyimpan banyak misteri yang belum mampu terungkap dan tertuliskan oleh pemikiran manusia yang terbatas. Gunung-gunung yang tinggi, samudera luas nan dalam, sungai yang panjang dan berliku-liku, hutan belantara lebat, adalah bagian dari alam yang sampai saat ini selalu menjadi inspirasi manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diciptakannya. Belajar menulis dari alam adalah sarana efektif yang banyak mengantarkan penulis-penulis besar dunia pada puncak kesuksesannya.

Penemu-penemu yang telah merobah dunia ini menjadi jaman baru bukanlah mereka yang menyandang gelar kesarjanaan di pundaknya. Tapi mereka yang berjuang keras menemukan sesuatu yang belum terpikirkan dan diproduksi sebelumnya oleh manusia lain di dunia ini. Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Issaac Newton, dan sederetan nama besar penemu lainnya adalah mereka yang telah mengukir sejarah kesuksesan dengan tinta emas.

Imam Al Ghazali dalam nasihatnya berkata, “Berjalanlah kamu di atas dunia ini, maka banyak yang akan kamu lihat”. Artinya, semakin banyak yang dilihat akan banyak pula yang diketahui. Nasihat tokoh sufi Islam ini akan mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa semakin banyak yang kita ketahui semakin banyaklah yang akan kita tulis. Rasa penasaran, keingintahuan, adalah sifat positif yang dimiliki manusia. Jika sifat ini dipupuk dan dimenej sedemikian rupa akan mengantarkan kita pada suatu penemuan baru yang spektakuler dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sifat penasaran mengajak orang untuk berpikir ada apa dibalik keingintahuannya itu. Sehingga berproseslah manusia ke arah pencarian dan penemuan-penemuan yang membuahkan hasil memuaskan bagi kemashlahatan manusia.

Konsep “orang bisa kenapa kita tidak” memang harus ditanamkan pada setiap individu yang ingin maju. Orang gagal dalam hidupnya sehari hanya membutuhkan waktu 24 jam. Demikian juga orang sukses dalam hidupnya sehari juga membutuhkan waktu 24 jam. Tuhan juga menciptakan dua mata, dua telinga, dan satu mulut. Apa maknanya? Tak lain dan tak bukan agar kita lebih banyak mendengar dan melihat daripada bicara. Dari proses banyak mendengar dan melihat itulah, kita akan dapat menyerap banyak ilmu pengetahuan untuk dijadikan sumber tulisan. Dan, tak salah kalau kita coba memulainya. (*)

(Esai ini untuk memotivasi para penulis pemula yang sedang gamang tentang “masa depan” kepenulisannya. Semangat!)

http://kuflet.com/2012/02/13/menulis-sebuah-proses-kreatif/

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 

Yang juga baru:close