Penyair Sosiawan Leak, Gagego Kolaborasi Pentas Peduli Lingkungan

0

Diposting pada: 18-01-2011 | Oleh: | Berkas: Warta| Dibaca: 380 kali
PATI–MICOM: Penyair asal Solo Sosiawan Leak berkolaborasi dengan Kelompok Musik Gagego, Pati, dalam pementasan peduli lingkungan, bertajuk Hidup Kami Milik Siapa, Kamis (23/12) akhir pekan lalu.

Sosiawan Leak, Senin (27/12) mengungkapkan, pementasan yang digelar di di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » tengah itu merupakan perwujudan atas kepedulian terhadap sejumlah kasus bencana lingkungan di Indonesiabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur », termasuk sejumlah kasus banjir dan merebaknya hama pertanian terkait dengan isu pengelolaan lingkungan yang kurang proporsional.

Pementasan menyajikan pentas puisibaca : Puisi, Korupsi & Kritik Tradisi» multimedia. Sebuah pementasan yang diramu dari gabungan berbagai unsur seni yakni puisibaca : Puisi, Korupsi & Kritik Tradisi», teater, musik, video art, dan tata artistik.

Tujuh personel Gagego yakni, Nursyam (teh yan jawabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur »,perkusi,vokal), Pendi Sukarjo (gitar, vokal, cak), Aan (bass), Putut Puspito Edi (seruling, slompret,vokal latar,perkusi), Slamet (kendang), Jaswadi (perkusi), dan Rini (vokal) menjalin kolaborasi dengan Sosiawan Leak yang membacakan sejumlah puisi karnyanya. Gagego, yang November lalu diundang di Unesa (Universitas Negeri Surabaya) itu juga menggandeng Ipung sebagai penata artistik dan Iwan sebagai penata video art.

Sosiawan Leak membacakan puisi berjudul Ya, Layang Demonstran, Mimpi Padi, Negeri Kadal, Hidup Kami, Jangang Ganggu Tikus, dan Phobia. Puisi itu secara khusus telah dipersiapkan diramu dengan karya musikal Gagego. Sedangkan Gagego meramunya dengan karya musikal Rupeg Rubeda, Para Penguasa, Blues Jawa, Baya Cecek, Kembang ing Taman, Jejer Ora Jajar, Eling-Eling.

Dalam pementasan itu, dengan seting perahu kayu, jala,jerami, dan properti kebutuhan petani dan nelayan,sangat klop dengan tema acara dan materi pementasan yang memang mempersoalkan tentang lingkungan petani dan nelayan. Masalah bencana banjir, gagal panen,juga serangan hama.

Sosiawan Leak merasa bahwa puisi puisinya sangat pas dengan musik yang diusung Gagego karena sama-sama mempersoalkan tentang tema-tema lingkungan. Kepiawainnya dalam berkomunikasi dengan penonton membuat pementasan malam itu menjadi cair diselingi sesekali dialog dan sentilan dengan warga setempat.

Gagego Musik Kampoeng tumbuh di Gabus, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Pati yang tentunya jauh dari hiruk pikuk perkembangan seni mainstream, tapi justru keunikan dan orisinalitas inilah yang membuat penyair Solo itu terpikat untuk terus berproses dengan mereka. “Ketika laju informasi dunia maya telah merebak sampai desa, kesenian macam ini akan menemukan pasarnya sendiri,” kata Leak, Senin (27/12).

Ada yang menarik dan menyita perhatian penonton malam itu ketika para pemain musik juga ikut memerankan beberapa fragmen tentang lingkungan. Yang paling mendapat aplus penonton ketika Gagego membawakan nomor Blues Nglindur dan Jejer Ora Jajar dalam irama dangdut koplo–yang tentu sangat akrab ditelinga warga.

Dwi Riyanto, penulis syair Jejer Ora Jajar, malam itu didaulat Sosiawan Leak untuk menjelaskan isi syair yang dia tulis. “Jejer Ora Jajar bicara tentang situasi kepemimpinan yang tidak pernah memihak wong cilik,pemimpin yang telah mabuk kekuasaan,hingga lupa tugasnya sebagai pengayom masyarakat,” jelas Dwi Riyanto.

Pementasan yang bernuansa kerakyatan itu berakir dengan lagu Eling-Eling yang membicarakan bencana alam dan manusia yang tak lagi menjaga keseimbangan alam. Semua ikut bernyanyi. 

“Etnisitas mereka dan kreativitas mereka menggunakan berbagai macam alat musim dari latar budaya Indonesiabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » yang beraneka macam, termasuk alat musik yang mereka buat sendiri. Lirik dan lagu mereka juga orisinal dan unik,” jelas Leak mengomentari penampilan Gagego.

Sosiawan Leak, 43, pemilik antologi sastrabaca : Menyingkap Peta Sastra Di Bangka Belitung: Dari Hamidah ke Hidayatullah» yang dirangkum dalam Umpatan (1995), Cermin Buram (1996), dan Dunia Bogambola (2007), berencana melanjutkan kolaborasi untuk pentas di beberapa desa di wilayah Pati. Pementasan itu didukung SHEEP (Society for Health Education Environment and Peace) Pati, serta dukungan pemerintahan setempat. (OL-2) 

Sumber; http://www.mediaindonesia.com/

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 

Yang juga baru:close