Sajak-Sajak Iwan Yongkinata

0

Diposting pada: 04-01-2011 | Oleh: | Berkas: Puisi| Dibaca: 259 kali
IWAN YONGKINATA lahir di Sumenep tanggal 28 Juli 1958, mulai terjun
ke dalam percaturan sastrabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » sejak mengikuti “Jambore Puisibaca : Penyair, Puisi, dan Identitas »” se Jawabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » Timurbaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » yang
diadakan KNPI Sumenep, pada tahun 1983. Pada tahun 1984 terbit kumpulanbaca : Sajak-Sajak Indra Tjahyadi» puisinya “DUA NOKTAH” di Loka Sastrabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur »
Surabaya. Kemudian banyak terkumpul dalam beberapa antologi lainnya, seperti
Festival Puisibaca : Penyair, Puisi, dan Identitas » XIII, XIV ( PPIA Surabaya, 1992/1994 ), Ektase Penyairbaca : Penyair, Puisi, dan Identitas » ( Aksera
Yayasan ’66 Surabaya, 1994 ), Menengok Wajah Pasar Anom Sumenep ( KSRB
Surabaya, 1994 ), Penyairbaca : Penyair, Puisi, dan Identitas » Madura dalam Forum ( Forum Bias Sumenep, 1994 ),
Sajakbaca : Sajak-Sajak Tentang Ibu»-sajakbaca : Sajak-Sajak Tentang Ibu» Refleksi Setengah Abad Indonesiabaca : Sastra Indonesia Mutakhir Jawa Timur » Merdeka ( Taman Budaya Surakarta,
1995 ). Sampai sekarang penyair ini masih tinggal di tanah kelahirannya Sumenep
Madura. Disamping banyak membacakan puisinya di berbagai daerah (
Kantong-Kantong Sastra ), ia sering memberikan pembinaan baca puisi, teater di
daerahnya.

SUNGAI IMPIAN
Sungai impian
adalah sungai hayatku
Merenang sukma
menyegarkan jiwa
Dalam menandur
sisa usia
Namun dimana-mana
berlumpur
Menyesakkan dada
Tak bermata,
mengungkai keangkuhan
Membeku
kejernihan
Pada insan tak
bersuara             
JAGUNG BAKAR
Jagung yang
dibakar perempuan tua di tepi jalan itu
Sesungguhnya
masih muda
Dan belum
waktunya lepas dari tangkainya
Sebab masih ingin
lebih lama lagi
Tinggal bersama
hijau demaunnya
Namun apa hendak
dikata
Demi perempuan
tua yang sudah renta
Jagung-jagung
muda itu rela
Terpanggang
diatas bara api nasibnya
MATAHARI
Dalam warna
apakah
langit akan
menusukku
ke dalam mulut waktu
EMAK SANATUN

Emak Sanatun
adalah janda beranak dua
Wajahnya keras
dibakar matahari
Menyewa los pasar dengan hasil keringatnya
Ketika ribut-ribut pasar mau dibongkar
Emak Sanatun hanya tersenyum pasrah
Do’anya Cuma hidup ini semoga tidak terkapar
Emak Sanatun
adalah janda beranak dua
Wajahnya keras
seperti baja
Dengan sepotong
cinta membara
Ia ingin
menyekolahkan anaknya jadi sarjana
Agar jadi pejabat
tidak melarat
Ketika ribut-ribut pasar mau dibongkar
Emak Sanatun yang
lugu dan jujur
Hanya bisa
berdo’a semoga hidupnya tidak tergusur
CERMIN YANG MENGHADAP 
Sudah berapa banyak bayangku yang tertangkap
Dalam cerminbaca : Cermin»-cerminbaca : Cermin» itu yang menghadap ?
Mata-matanya yang
tajam terus saja memandangku liar
Dan tak satupun
gerak langkahku luput dari bidikannya
Hidupku terkepung ! dimana-mana cermin itu
Menghadap di dinding-dinding di langit-langit
Di daun-daun di
jalan-jalan
Bahkan di seluruh
anggota tubuhku sendiri
Sudah berapa banyak bayangku yang tertangkap
Dalam cermin-cermin itu yang menghadap ?
Yang satupun tak
pernah kunafasi embun do’a
Sebaik-baik bentuk
makhluk ciptaan
TUGU
Tugu-tugu yang
berdiri di balik dada
Luruh seketika !
saat boom waktu
Meledakkan senja
di kaki langit
Batang-batang
lilin menghadapkan diri
Mengharapkan
nyala pada api
Sebelum malam tiba
Sebelum daging terkikis habis usia
DAUN-DAUN
Ketika daun-daun
dihadapkan ke arah senja
Luruh satu-satu
Dan terkulai di
atas sajadah
Merah wajahnya
Menatap matahari
perlahan tenggelam
Ke peraduan
senyap
Dilupakannya
semua warna hijau
Ditanggalkannya
segala tahta yang melekat di ranting
Di atas bentangan
waktu
Di tengoknya
kembali akar kehidupan
RUMPUT
Rumput-rumput
yang kau gelar di mataku
Telah tumbuh
subur di sajadahku
Hijau hatiku
Mencium aromanya semerbak dalam sujud
Dan luluh hatiku,
menyaksikan gerak diamnya
Hening dalam
dzikir
Sebagai
huruf-huruf besar ayatmu
Yang tidak habis
kubaca
SUMBU
Jauh malam, sumbu
hatiku
Masih saja
berdiri
Melihat langit
kelabu
Bergelimang awan
hitam
Basah tubuhnya
Bersimbah peluh
lautan
Ditengah pekatnya
kelam
Dipetik-petiknya
cakrawala
Demi setitik cahaya rembulan
Untuk membakar dirinya sendiri
KUBUR
Kemana hendak
kutanam jasad ini
Bila nanti
membeku ?
Kubur, tempat selesaianku mengerang
Mencari tanah-tanah yang hilang
Ladang-ladang yang musnah
Yang kau lahap dengan rakusnya
Biarlah, perut yang tak pernah kenyang itu
Akan kujadikan
kuburku
Kubur-kubur
mereka
TUBUHMU BERASAP
Tubuhmu kembali berasap
Mengepulkan masa
silam dalam asbak yang lusuh
Malam tergolek terputung gugusan haribaca : Sajak-Sajak Tentang Ibu»
Sebatang tunggul merebat kelam di ladang
Mengungkai akar
mangkas, tak henti
Merengkuh muka
bumi
Dalam warna musim yang kusam
Angin menderu meniup ajuk
Ke dalam benih-benihmu

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 

Yang juga baru:close