Sastra Islami Indonesia

0

Diposting pada: 19-12-2010 | Oleh: | Berkas: Esai| Dibaca: 311 kali
Alimuddin
Pembicaraan mengenai sastrabaca : Seks, Sastra, Kita» Islambaca : Sutan Takdi Alisyahbana, Menginginkan Umat Islam Bisa Mencapai Kemajuan dan Keluar Dari Keterbelakangan.» di Indonesia, hampir selalu mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal yang itu-itu juga, pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai “pengkotak-kotakan sastrabaca : Seks, Sastra, Kita»“, serta masalah definisi dan kriteria sastra Islambaca : Sutan Takdi Alisyahbana, Menginginkan Umat Islam Bisa Mencapai Kemajuan dan Keluar Dari Keterbelakangan.». Bahkan, hingga kini, eksistensi Sastra Islamibaca : Sastra Islami Di Tengah Sastra Kontemporer» di Indonesia masih ‘mengambang’. Beberapa pihak ada yang menolak apa yang disebut Sastra Islami. Uniknya, kebanyakan dari mereka adalah dari pihak muslim sendiri.
A A Navis bahkan berkata bahwa sastra Islambaca : Perempuan Pesantren dan Sastra Islam» adalah sesuatu yang utopis saat ini. Sementara itu, Putu Arya Tietawirya dalam buku Antologi Esai dan Kritik Sastra (1982) menulis, Sastra adalah sastra saudaraku, tak perlu dikotak-kotakkan. Tidak usah membuat kepala pening. Muhammad Ali, penulis Ihwal Dunia Sastrabaca : Pengantar Memasuki Dunia Sastra»: Kumpulan Esai, mengatakan label sastra Islam itu sungguh penuh kekaburan.
Penyebutan sastra Islambaca : Perempuan Pesantren dan Sastra Islam» berbeda dengan penyebutan sastra Barat, sastra Timur, sastra Arab, sastra Amerika, atau sastra Indonesiabaca : Sastra Indonesia dalam Perspektif Multikulturalisme*». Karena yang disebut-sebut itu jelas definisinya, bahasanya, kecenderungan etnologi, dan paling gampang bisa terdefinisi batasan geografisnya.
Sebaliknya, Abdul Hadi W M berkata bahwa sastra Islamibaca : Sastra Islami Di Tengah Sastra Kontemporer» itu ada dan eksis. Sastra Hindu saja ada, mengapa sastra Islami tidak ada? Helvy Tiana Rosa, Suminto A Sayuti dan Kuntowijoyo juga berpendapat hal yang sama.
Abdul Hadi W.M berpendapat bahwa karya sastrabaca : Mencermati Nilai Spiritualitas dalam Karya Sastra» Islami sudah eksis di Indonesia sejak abad 14, bersamaan dengan meluasnya pengaruh Islam di Nusantara. Hanya saja karena Indonesia belum ada saat itu, dan yang baru ada hanya Melayubaca : Melayu, Puisi, Mantra», maka tersebutlah kesusastraan Melayubaca : Melayu, Puisi, Mantra» Islam. Tokoh-tokoh sastra Islami saat itu adalah Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jauhari, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan lain-lain.
Sastra Islami
Sebenarnya cukup banyak sastrawan muslim yang memberi istilah sendiri pada karya sastrabaca : Mencermati Nilai Spiritualitas dalam Karya Sastra» yang dibuatnya yang mengarah pada “sastra Islam” Istilah-istilah tersebut berakar pada wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya.
Ada yang menyebutnya sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufistik (Abdul Hadi WMbaca : Abdul Hadi WM: Sastra Sufi Semakin Merosot»), sastra zikir (Taufiq Ismail), sastra terlibat dengan dunia dalam (M. Fudoli Zaini), sastra transenden (Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya. Namun selain Abdul Hadi WM, tak satu pun yang mengidentikkan penyebutan tersebut dengan sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut, tak bisa dinafikan, merupakan tafsir lain dari sastra Islam.
Menurut Said Hawwa dalam bukunya Al Islam III, senibaca : Seni, Sastra dan Islam» dan Sastra Islami adalah senibaca : Seni, Sastra dan Islam» atau sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Harun Daud menyatakan, Sebuah karya sastra dalam Islam adalah alat atau bantuan (dalam mengabdi kepada Allah), bukannya cuma pengakhiran realita.
Mudah saja untuk mengenali sebuah karya sastra Islami. Menurut Helvy Tiana Rosa, mereka (karya sastra Islami) mempunyai ciri khusus, yaitu tidak akan melalaikan dari dzikrullah. Justru mereka selalu mengingatkan kitabaca : Seks, Sastra, Kita» akan kebesaran Allah dalam artikel-artikel, puisibaca : Melayu, Puisi, Mantra», dan sajak-sajak mereka dengan tanpa menggurui tentunya.
Pendapat Helvy Tiana Rosa itu lebih dipertegas oleh Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta. Sebuah karya itu harus serius, harus bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Karya itu tidak boleh sekedar karya kosong, tapi bermutu, berkualitas, dan bermuatan misi rahmatan lil alamin, karya itu mesti membangun jiwa dan mengandung nilai kebajikan bagi manusia dan kemanusiaan seluruhnya.
Kebijakan pilihan
Dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim seharusnya merupakan bentuk dari ibadahnya kepada Allah, termasuk dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang dikatakan Allah “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan untuk beribadah kepadaku.
Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada umat dan Allah. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau muslimah pengarang adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara tersendiri.
Dan kitabaca : Seks, Sastra, Kita» tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. Begitu pun tak ada proses pemaksaan bagi para sastrawan muslim sekali pun untuk menulis dengan pola yang sudah digariskan oleh Islam. Seperti pernah terjadi ketika para sastrawan yang dahulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar. Seluruhnya berpulang pada kebijakan pilihan masing-masing.
Dikarenakan adalah sesuatu yang bijak di sini, jikalau kita menghargai dan saling menghormati. Dan pun kita harus menghargai sebagian kalangan sastrawan muslim yang telah memilih sastra Islam sebagai sarana berekspresi sekaligus sarana mereka dalam ber-ammar ma’ruf nahi munkar sebagaimana yang diperintahkan Allah.
Mengutip A Teuw, bagaimana pun, konsep keindahan dan estetika bukan hanya dalam bidang kesusastraan amat berbeda antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan Barat sekuler. Sekuler menilai keindahan sebagai freedom of expression, sementara Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.
http://blog.harian-aceh.com/

Berbagi Informasi :

  • Stumble upon
  • FB Syaf Anton
  • Tweeter Syaf Anton
  • Gardu Depan
  • Daftar Isi

Setelah membaca, apa komentar Anda?

 
Yang juga baru:close